mr

MUQODDIMAH Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang. Harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu .Sebagai contoh; membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasahan yang terkait dengan bangunan.Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional. Proses tarbiyah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah ,karena tarbiah berati mempersiapkan manusia dengan membentuk dan memformatnya menjadi syakhsyiah muslimah da’iah setelah menghlangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya. Tarbiah berarti berinteraksi dengan manusia makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks.Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusa dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya.Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiah,bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus ,latarbelakang ilmiah yang yang memadai,kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun belum cukup untuk menjadi murobbi sukses. Mengingat mentarbiah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional. DEFINISI MUROBBI Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiah morabbi,dengan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih ,yang memperhatikan aspek pemeliharaan[ar-ria’yah],pengembangan[at-tanmiah]dan pengarahan[at-taujih] serta pemberdayaan[at-tauzhif]. FUNGSI MUROBBI DI DALAM AL-QUR’AN Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan fungsi murobbi, seperti di dalam surat Al-Baqoroh ayat151,Ali Imron ayat 164 dan Al-Jumu’ah ayat 2.Di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151 Allah SWT. Berfirman; Artinya; ‘‘Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul[Muhammad] membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa-jiwa kamu, mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang kamu belum mengetahuinya”. Di dalam ayat ini ada 3 poin penting yaitu; 1. Rosul diutus kepada ummatnya sebagai murobbi[kama arsalna fikum rosulan minkum] 2. Rosul dalam melaksanakan fungsi tarbiah dibekali manhaj dan penguasaannya yang benar dan utuh. [yatlu ‘alaikum ayatina] 3. Proses tarbiah yang dilakukan rosul memperhatikan 3 aspek penting yaitu; a. Mensucikan jiwa[wayuzakkikum]agar terbentuknya ruhiah ma’nwiah[mentalitas sepiritual]. b. Mengajarkan ilmu[wayu’allimukumul kitaba walhikmata] agar terbentuknya fikriah tsaqofiah [wawas an intelektua] c. Mengajarkan cara beramal [wayu’allimukum malam takunu ta’lamun] agar terbentuknya amaliah harokiah[amal dan harokah]. Jika kita perhatikan ayat di atas tazkiatun nafs [pembersihan jiwa] menjadi skala prioritas dalam proses tarbiah sebelum memberikan wawasan intelektualitan dan berbagai aktivitas,karena perubahan dan perbaikan manusia harus dimulai dari perubahan dan perbaikan jiwa sebagaimana. firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11. Artinya; “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan dirinya’’. walapun murobbi tidak boleh menabaikan sisi-sisi yang lainnya yaitu sisi intelektualitas dan aktivitas secara seimbang dan berkesinambungan. FUNGSI MURBBI DALAM MENJALANKAN PROSES TARBIAH Murobbi dalam melaksanakan proses tarbiah atas mutarobbi berfungsi sebagai ; 1. Walid [orang tua]dalam hubungan emosional. 2. Syaikh[bapak sepiritual]talam tarbiah ruhiah 3. Ustadz[guru] dalam mengaarkan ilmu 4. Qoid [pemimpin]dalam kebijakan umum da’wah. Agar fungsi-fungsi ini dapat di perankan oleh murobbi maka murobbi dituntut untuk memenuhi keriteria dan sifat-sifat murobbi sukses. KRITERIA DAN SIFAT-SIFAT MUROBBI SUKSES Diantara kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses sebagai berikut ; 1. Memiliki ilmu. Ilmu yang harus dimiliki seorang murobbi meliputi banyak cabang ilmu pengetahuan,diantaranya; a. Ilmu syar’i; salahsatu tujuan tarbiah dalam islam menjadikan manusia agar beribadah kepada Allah ibadah baru akan tercapai hanya dengan ilmu syar’i.Yang dimaksud dengan ilmu syar’i di sini tidak berarti bahwa seorang murbbi harus alim di bidang ilmu syar’i atau sepesialis di bidang ulum syar’iah akan tetapi ilmu syar’I yang harus dimiliki seorang murobbi adalah ilmu syar’i yang dengannya ia mampu membaca,membahas dan mempersiapkan tema-tema syar’i serta memiliki ilmu-ilmu dasar yang kemudian ia dapat mengembangkan potensi syar’inya dengan semangat belajar. b. Ilmu pngetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai murobbi tentang situasi dan kodisi zaman dan masyarakatnya. c. Psikologi, seperti karakter manusia sesuai dengai usianya;anak-anak,remaja,dan orang dewasa, tentang motifasi naluri dan potensi manusia serta membaca tulisan-tulisan dan kajian-kajian tentang kelompok masyarakat yang dibutuhkan dalam proses tarbiah.Ini tidak berarti seorang murobbi harus psikolog atau ahli di bidang ilmu pendidikan,akan tetapi yang diperlukan murobbi adalah dasar-dasar umum ilmu jiwa dan memiliki kemampuan memahami hasil kajian dan penelitian di bidang ini. d. Mengetahui kesiapan, kemampuan dan potensi mutarobbi, dalam hal ini Rasul SAW. murobbi yang sangat tahu tentang kondisi, potensi, kesiapan dan kemampuan mutarobb, sebagai contoh ketika rosul memberikan sarannya kepada Abu Dzar al-Gifari di saat ia minta jabatan kepada rosul dalam sabdanya ; ’’Wahai Abu Dzar saya lihat kamu dalam hal ini lemah,dan saya mencintai kamu seperti saya mencintai diri saya sendiri ,kamu tidak layak untuk mempin hanya dua orang sekalipun dan tidak mampu mengelola harta milik anak yatim”.[H.R.Muslim]. e. Mengetahui lingkungan di mana mutarobbi berada/tinggal, karena lingkungan mempuanyai pengaruh yang besar terhadap kepribadaian [mutarobbi], pengetahuan tentang lingkungan mutarobbi sangat penting bagi mutarobbi sebagai bahan dalam proses tarbiah. 2. Murobbi harus lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi; dalam proses tarbiah terjadi timbal balik antara murobbi dan mutarobbi, terjadi proses memberi dan mengambil menyampaikan dan menerima,oleh karenanya murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbi, tidak berarti murobbi harus lebh tua dari mutarobbi sekalipun faktor usia penting akan tetapi yang lebih penting kemampuan, pengalaman dan keterampilan murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbinya. Karenanya Rosul orang memiliki sifat-sifat di atas semua manusia di berbagai sisi. 3. Mampu mentransformasikan apa-apa yang dimiliki; banyak orang orang besar yang tidak mampu memberikan dan menyampaikan apa-apa yang dimilikinya,karenanya ia tidak dapat mentarbiah ,walaupun memiliki kelebiahb dari sisi ilmu pengetahuan, moralitas, mentalitas dan emosional, akan tetapi karena alasan tertentu mereka mereka tidak mendapatkan pengalaman lapangan khususnya di medan Tarbiyah ia hanya memiliki wawasan tioritis tidak memlki pengalaman praktis. Orang-orang seperti ini sering dijumpai di acara-acara umum seperti kajian ilmiah, seminar, dialog wawancara dan lain-lainnya mereka padandai berbicara,kuat argumentasinya dan penyampaian materinya menarik, tapi semua itu belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu mentarbiah. Sering kali kita terpesona dengan orang-orang seperti itu bahkan menganggap mereka memiliki potensi tarbiah yang paling baik tanpa melihat sisi-sisi yang lain. 4. Memiliki kemampuan memimpin [al-qudroh ‘alal qiadah]; kemampuan memimpin menjadi salah satu kriteria asasi bagi murobbi.dan tidak semua orang memilki kemampuan ini,ada orang yang dapat mengambil keputusan menagirial,dan ada pula yang mampu memanag perusahaan atau yayasan, akan tetapi qiadah [kepemmpinan] lebih dari itu, khususnya proses tarbiah tidak bisa dipaksakan, jika militer atau penguasa dapat menggiring manusia dengan tongkat dan senjata maka seorang yang tidak memiliki kemampuan memimpin tidak akan bisa mentarbiah orang lain. 5. Memiliki kemampuan mengevaluasi[al-qudroh ‘alal mutaba’ah]; proses tarbiah bersiafat terus menerusdan berkesinambungan tidak cukup denan arahan-arahan sesaat dan temporer dan tarbiah membutuhkan evaluasi yang berkesinambungan.untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses tarbiah maka evaluasi suatu hal yang tidak boleh diabaikan.Murobbi mengevaluasi dirinya, manhaj, sarana, media, metoda dan mutarobbi secara intensif dan integral. 6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian [al-qudroh ‘alat taqwim]; taqwim dalam proses bagian yang tidak terpisahkan dari tarbiah itu sendiri ,murobbi harus melakukan penilaian terhadap ; a. Menilai peserta tarbiah untuk mengetahui kemampuannya,agar murobbi dapat mentarbiah sesuai dengan keadaannya. b. Menilai peserta tarbiah untuk mengetahui sejauh mana pecapaian muasofat pada dirinya dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kesehariannya. c. Menilai program ,tugas dankendala serta solusinya . d. Menilai permasalahan tarbawiah untuk ditangani secara profesonal dan proporsional. Taqwim yang dilakukan oleh murobbi harus dilkukan secara ilmiah dan obyektif dengan berpegang pada kaidah-kaidah taqwim yang telah baku,bukan kesan pribadi atua emosional. 7. Memilki kemampuan membangun hubungan emosional[al-qudroh ‘ala binaal-‘laqoh al-insaniah]. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah.maka murobbi yang tidak menanamkan kasih sayang dan kecintaan kedam jiwa mutarobbinya , bisa dipastikan bahwa semua pelajaran dan pesan-pesannya yang disampaikan kepadanya akan berakhir dengan berakhirnya kata-kata murobbi dan tidak akan masuk kedalam hati , apa lagi untuk menjadi ilmu yang mengkristal di dalam jiwa. Allah SWT.telah mengingatkan didalam surat Ali Imron ayat 159 : ’’Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka ,sekiranya kamu bersikapkeras lagi berhati kasar tentulah menjauhkan diri dari sekelilingmu,karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad ,maka bertawakkallah kepada Allah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya’’.

Add comment November 19, 2006 mentoringisc

PROFIL HALAQAH

Pengertian Halaqah            Dalam manhaj 1421 H disebutkan halaqah adalah sarana utama tarbiyah sebagai media untuk merealisasikan kurikulum tarbiyah sarana utama berupa halaqah tersebut masih harus dilengkapi dengan sarana-sarana tambahan agar sasaran tarbiyah yakni pencapaian muwashafat atau karakteristik di jenjang-jenjang tersebut dapat tercapai secara optimal. Sarana-sarana tambahan antara lain rihlah, mukhayyam, daurah, seminar, ta’lim, dan penugasan.            Selain merupakan salah satu sarana tarbiyah, halaqah juga dapat didefinisikan sebagai satu proses kegiatan tarbiyah dalam dinamika kelompok dengan jumlah anggota maksimal 12 orang.            Walaupun cara mentarbiyah seseorang bisa melalui da’wah fardhiyah misalnya, halaqah tetap merupakan metode talaqqi wadah yang efektif karena terjadi proses interaksi yang intensif antara anggota halaqah. Melalui proses interaksi, tersebut diharapkan terjadi proses saling bercermin, mempengaruhi dan berpacu ke arah yang lebih baik serta melatih kebersamaan dalam ruang lingkup amal jama’i.            Dalam buku Adab Halaqah, Dr. Abdullah Qadiri menegaskan bahwa sasaran utama belajar mengajar dalam sebuah halaqah haruslah bertujuan akhir mengokohkan hubungan dengan Allah dan mampu beribadah kepada-Nya, dengan cara yang diridhai-Nya. Karena beribadah kepada Allah adalah tujuan asasi diciptakan-Nya manusia.           

Halaqah Sebagai Sarana Pembentukan Pribadi Muslim

            Halaqah sebagai sarana utama tarbiyah marhalah Pemula dan Muda juga berfungsi sebagai sarana pembentukan pribadi Muslim yang shaleh. Pribadi-pribadi yang terbentuk diharapkan memiliki sifat-sifat terpuji, perangai Islam asasi, tidak terkotori oleh bentuk-bentuk kemusyrikan dan tidak memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang memusuhi Islam. Dalam fase tarbiyah ini diperkenalkan dasar-dasar umum Islam berupah aqidah, syari’ah, akhlaq dan jihad.           
Ada sepuluh muwashafat atau karakteristik pribadi muslim yang shaleh dengan rincian atau penjabaran yang sesuai dengan marhalah Pemula dan Muda. Sebagai contoh untuk karakteristik Saliimul Aqidah (aqidah yang bersih/selamat) seorang pribadi yang shaleh hanya akan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak berhubungan dan meminta tolong pada jin, tidak meramal nasib dan pergi ke dukun, tidak memintah berkah ke kuburan atau meminta tolong pada orang yang sudah mati dan lain-lain.
            Kemudian untuk ciri Shahihul Ibadah (ibadah yang shahih) ternampakkan bila ia berani mengumandangkan adzan, benar-benar ihsan dalam thaharah (bersuci), bersemangat untuk shalat berjama’ah di masjid, ihsan dalam shalat, berpuasa fardhu, berzakat dan qiyamul lail / shalat tahajjud minimal 1 kali sepekan.            Berikutnya untuk muwashafat Matiinul Khuluq (akhlak yang kokoh, mulia) terjabarkan dalam sikap dan perilaku yang tidak takabbur, tidak imma’ah (asal ikut, membeo), tidak berdusta, tidak mencaci maki, tidak mengadu domba, tidak ghibah (membicarakan keburukan orang lain) dan tidah mematahkan pembicaraan orang lain.            Selanjutnya, karakteristik Qadirun ‘alal kasbi (kemandirian) tercermin pada perilaku peserta halaqah ini bila ia selalu menjauhi sumber penghasilan yang haram, giat bekerja dan rajin membayar zakat, menjauhi riba, judi dan segala tindak penipuan.             Ciri Mutsaqaful Fikri (intelektualitas yang berkembang dengan baik) terwujudkan bila pribadi  ini pandai, cakap membaca dan menulis, berwawasan luas, pandai menggunakan logika berfikir yang logis dan metodologis, membaca 1 juz tafsir Al-Qur’an (juz ke 30), memperhatikan hukum-hukum tilawah, menghafalkan Hadits Arba’in (hadits ke 1-20) dan mengetahui hukum thaharah (bersuci), shalat dan berpuasa.             Sedangkan karakteristik Qawwiyul Jismi tertampakkan pada kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal, komitmen terhadap adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, kontinyu olahraga 2 jam/pekan, bangun sebelum fajar, menghindari rokok dan minuman-minuman yang berkafein.            Selanjutnya ciri Mujahidin Linafsihi terlihat bila pribadi yang shaleh tersebut selalu menjauhi segala yang haram, tempat-tempat hiburan maksiat. Sedangkan karakter Munazhamun fi Syu’unihi tercermin bila peserta halaqah mulai memperbaiki penampilan ke arah lebih Islami serta kualitas kerja yang rapi dan profesional.            Kemudian Muwashafat Harishun Waqtihi (menjaga dan menghargai waktu) nampak bila pribadi tersebut senantiasa bangun pagi, menghindari kesia-siaan atau hal-hal yang tak berfaedah serta memanfaatkan waktu untuk beribadah, belajar, mencari nafkah dan berda’wah.            Akhirnya ciri ke sepuluh berupa Nafi’un Lighairihi (bermanfaat bagi orang lain) terjabarkan oleh sosok pribadi shaleh dengan menunaikan hak kedua orang tua, berpartisipasi dalam kebaikan seperti aktif dalam bakti sosial dan kerja bakti, pandai membahagiakan orang lain, membantu orang yang membutuhkan dan sebagainya. 

Rukun Halaqah            Halaqah memiliki rukun: Ta’aruf, Tafahum dan Takaful.            Rukun pertama (1) Ta’aruf (saling mengenal) adalah sebuah permulaan yang harus ada dalam sebuah halaqah. Dasar da’wah kita adalah saling mengenal, seyogyanyalah setiap peserta halaqah saling mengenal dan berkasih sayang dalam naungan ridha Allah SWT.            Ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Hujurat ayat 10 dan 13 serta Ali Imran ayat 103 memberi arahan pokok bagaimana seseorang harus saling mengenal. Ditambah lagi hadits-hadits Nabi SAW: “Mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang saling mengokohkan”,Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya, tidak akan menzhalimi dan menyerahkannya pada musuh” dan “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan kelemah-lembutan seperti jasad yang satu”.            Ta’aruf melingkupi saling mengenal mulai hal-hal yang berkaitan dengan fisik seperti nama, pekerjaan, postur tubuh, kegemaran, keadaan keluarga. Kemudian aspek kejiwaan seperti emosi, kecenderungan, kepekaan hingga aspek fikriyah seperti orientasi pemikiran. Selain itu juga hingga mengetahui kondisi sosial ekonomi, keseriusan dalam beribadah, dan puncaknya sampai mengetahui kondisi “isi kantong” dan kegiatan harian secara detail sepekan penuh. 

            (2) Tafahum (saling memahami). Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin itu hatinya lunak. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak dapat menggugah hati”.(HR Imam Ahmad). Yang dimaksud dengan tafahum adalah :a.        Menghilangkan faktor-faktor penyebab kekeringan dan keretakan hubunganb.       Cinta kasih dan lembut hati c.        Melenyapkan perpecahan dan perselisihan karena pada hakikatnya perbedaan itu bukan pada masalah yang sifatnya prinsipil. 

Jika itu sudah terwujud maka tafahum akan mampu memberikan arahan-arahan positif berupa :a.        Bekerja demi tercapainya kedekatan cara pandangb.       Bekerja untuk membentuk keseragaman pola pikir yang bersumberkan pada Islam dan keberpikan pada kebenaranc.       Mempertemukan ragam cara pandang atas 2 hal yang sangat penting yakni :ü      Skala prioritas amal

ü      Tahapan-tahapan dalam beraktivitas

d.       Menuju puncak tafahum yakni memiliki kesatuan hati dan mampu berbicara dengan bahasa yang satu 

            (3) Takaful (saling menanggung beban). Hendaknya sesama peserta halaqah dilatih untuk saling memikul beban saudaranya.Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat saudaranya lebih baik baginya dari I’tikaf satu bulan di masjidku ini”, kemudian hadits lainnya “Barangsiapa memasukkan kegembiraan kepada satu keluarga Muslim Allah tidak melihat balasan baginya kecuali surga”            Takaful memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut :1 Saling mencintai, adanya kasih sayang dan keterkaitan hati.2. Bahu membahu dalam berbagai pekerjaan yang menuntut banyak energi3. Tolong menolong sesama muslim 4. Saling menjamin (takaful) dalam ruang lingkup halaqah baik dengan murabbi maupun dengan sesama peserta halaqah.Adab-adab Halaqah  

            Agar sebuah halaqah dapat dikategorikan sebagai halaqah muntigah (berhasil guna) tentunya ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh semua komponen halaqah dalam hal ini adalah murrabi dan mutarabbi.            Dr. Abdullah Qadiri dalam buku Adab Halaqah menyebutkan adab-adab pokok yang harus ada dalam sebuah halaqah:1.       Serius dalam segala urusan, menjauhi senda gurau dan orang-orang yang banyak bergurau. Yang dimaksudkan serius dan tidak bersenda gurau tentu saja bukan berarti suasana halaqah menajdi kaku, tegang, dan gersang, melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, gurauan yang tidak melampaui batas atau berlebih-lebihan. Jadi canda ria dan gurauan hanya menjadi unsur penyela/penyeling yang menyegarkan suasana dan bukan merupakan porsi utama halaqah.2.       Berkemauan keras untuk memahami aqidah Salafusshalih dari kitab-kitabnya seperti kitab Al-’Ubudiyah. Sehingga semua peserta halaqah akan terhindar dari segala bentuk penyimpangan aqidah. 3.       Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dengan jalan banyak membaca, mentadabbur ayat-ayatnya, membaca buku tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits dan lain-lain.4.       Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke dalamnya karena tidak ada manusia yang ma’shum (bebas dari kesalahan) kecuali Rasulallah yang dijaga Allah. Sehingga apabila ada perbedaan pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak boleh mentaati makhluk dalam hal maksiat pada Allah.5.       Majlis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah terhadap seseorang atau jama’ah tertentu. Adab-adab Islami haruslah diterapkan antara lain dengan tidak memburuk-burukan seseorang.6.       Melakukan Ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi secara tepat dan bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.7.       Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menetapkan skala prioritas bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan kadar urgensinya. 

            Selain adab-adab pokok tersebut, secara lebih spesifik ada adab yang harus di penuhi oleh peserta/anggota halaqah terhadap diri mereka sendiri, terhadap murabbi, dan sesama peserta halaqah. Mula-mula seorang peserta halaqah hendaknya memiliki kesiapan jasmani, ruhani, dan akal saat menghadiri liqa halaqah ia semestinya membersihkan hati dari aqidah dan akhlaq yang kotor, kemudian memperbaiki dan membersihkan niat, barsahaja dalam hal cara berpakaian, makanan dan tempat pertemuan. Selain itu juga besemangat menuntut ilmu dan senantiasa menghiasai diri dengan akhlaq yang mulia.            Selanjutnya terhadap murabbi hendaknya ia tsiqah (percaya) dan taat selama sang murabbi tidak melakukan maksiat. Lalu berusaha konsultatif atau selalu mengkomunikasikan dan meminta saran-saran tentang urusan-urusan dirinya kepada murabbi. Selain itu ia juga berupaya memenuhi hak-hak murabbi dan tidak melupakan jasanya, sabar atas perlakuannya yang boleh jadi suatu saat tidak berkenan, meminta izin dan berlaku serta bertutur kata yang sopan dan santun.            Dan akhirnya adab terhadap kolega, rekan atau sesama peserta halaqah: mendorong peserta lain untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti tarbiyah. Lalu tidak memotong pembicaraan teman tanpa izinnya, selalu hadir tidak terlambat dan dengan wajah berseri, memberi salam, bertegur sapa dan tidak menyakiti perasaan. Selain itu terhadap lingkungan di sekitar tempat halaqah berlangsung, hendaknya semua peserta halaqah selalu menunjukkan adab-adab kesantunan, mengucapkan salam, meminta izin ketika melewati mereka dan pamit bila akan pulang serta melewati mereka lagi. 

Agenda Aktivitas Halaqah            Agenda aktivitas halaqah atau baramij halaqah adalah sesuatu yang harus dirancang dan direncanakan dengan matang dan seksama. Ayat Al-Qur’an di surat Al-Hasyr ayat ke 18 yakni: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, hendaklah setiap diri memperhatikan bekal apa yang sudah dipersiapkannya untuk hari esok, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”, mengingatkan bahwa agenda aktivitas halaqah harus di “planning”, direncanakan dengan baik agar ia tidak sekedar menjadi tempat temu kangen, ngobrol-ngobrol yang tentu arah dan sedikit diselingi dengan materi tarbiyah, lalu diakhiri dengan makan siang.            Kita tidak bisa mengatakan: “Ah bagaimana nanti saja”, melainkan kini paradigmanya harus dibalik: “Bagaimana nanti seandainya tidak direncanakan dengan baik”.            Agenda aktivitas ini bisa direncanakan dan dibuat dalam rentang waktu per pekan, per bulan atau per tiga bulan dan kalau perlu agenda acara atau baramij selama 1 tahun penuh sudah dirancang sebelumnya.            Terlepas dari rancangan agenda acara yang setahun sekali atau sebulan sekali, yang jelas baramij halaqah yang pokok, yang harus ada dan secara tertib dilaksanakan setiap pekan adalah sebagai berikut:1.       Iftitah (pembukaan) bisa berupa taujih (pengarahan) dari murabbi atau sekilas info berupa analisis atas masalah da’wah atau kejadian-kejadian yang actual di masyarakat.2.       Infaq, kotak infaq (sunduq infaq), diedarkan di awal acara selagi konsentrasi para peserta halaqah masih penuh, karena jika dikahir acara dikhawatirkan konsentrasi sudah buyar, ada saja yang lupa atau peserta-peserta sudah terlanjur bubar.3.       Tilawah dan tadabbur. Hendaknya ditunjuk koordinator yang mengawasi yang dipilih dari peserta halaqah yang paling baik bacaannya. Hendaknya semua menyimak dan dilanjutkan bersama-sama mentadabburinya agar diperoleh keberkahan dan rahmat dari Allah.4.       Talaqqi madah, murabbi lalu menyampaikan materi tarbiyah untuk marhalah Pemula dan Muda secara disiplin dan cermat agar muwashafat yang diharapkan dari materi tersebut dapat terwujud dalam diri peserta halaqah.5.       Mutaba’ah/pemantauan dan diskusi6.       Ta’limat/pemberitahuan-pemberitahuan tentang rencana-rencana berikut atau info-info penting yang mendesak7.       Ikhtitam berupa do’a penutup yakni do’a rabithah atau do’a persatuan hati. 

            Selain agenda pokok rutin yang dilaksanakan per pekan, acara yang secara rutin sebulan sekali dilakukan juga dapat direncanakan secara baik. Misalnya acara jalasah ruhi atau buka shaum sunnah sebukan sekali. Atau ziarah sebukan sekali bergiliran ke tempat setiap peserta halaqah dengan tujuan mempererat ukhuwwah. Acara yang diselenggarakan bisa berupa saling tukar hadiah. Bisa juga acara ziarah itu berupa ziarah yang insidental dan tidak direncakan seperti menjenguk peserta halaqah yang sakit atau melahirkan.            Kemudian sebulan sekali bisa pula dilakukan acara diskusi, bedah buku, penugasan kliping atau daurahupgrading” dengan mengundang guru dari luar. Setiap tiga bulan sekali atau 6 bulan sekali bisa diadakan acara rihlah atau piknik bersama ke puncak atau pantai misalnya. Acara-acara sepertiini bisa menjadi sarana taqwim/penilaian yang efektif karena seseorang akan terlihat sifat aslinya bila sedang menjadi musafir juga akan terlihat apakah ia mau berinisiatif berkerjasama dsb.            Untuk mengasah kepekaan dan tanggung jawab sosial, peserta halaqah dilatih untuk rutin, memberikan bantuan dan mengunjungi panti asuhan atau yatim piatu, bakti sosial atau penjualan sembako murah, khitanan massal dan pengobatan gratis di daerah kumuh dan penggalangan dana bagi Mujahid-mujahid di dunia Islam seperti Palestina,
Ambon dll.
            Sementara untuk melatih dan meningkatkan kemampuan da’wiyah bisa berupa penugasan untuk mengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), membina remaja masjid dsb.            Acara tahunan berupa Tarhib Ramadhan dan ‘Idul Fitri bisa disemarakkan dengan menjadikan ifthar shaim untuk dhu’afa, musafir atau piknik bersama dan pemberian Kiswatul ‘Id dalam acara misalnya Gebyar ‘Idul Fitri (Gembira bersama yatim di saat ‘Idul Fitri)            Selanjutnya karena tarbiyah melingkupi 3 aspek yang ada pada manusia yakni jasmani, rohani dan intelektualitas (jism, ruhi dan fikri), maka agenda acara yang dibuatpun harus memperhatikan dan mengasah ketiga aspek tersebut.            Di aspek jasmani bisa berupa penyuluhan pola hidup dan pola makan yang sehat, pemeriksaan kesehatan dan olahraga yang rutin seperti senam bagi wanita dan sepakbola, jalan kaki atau bulu tangkis bagi laki-laki.            Aspek fikriyah bisa diasah dengan sering menjadi panitia atau peserta seminar bedah buku, membaca kitab-kitab Hadits dan Sirah Nabawiyah, biografi sahabat-sahabat Rasulullah SAW dengan sumber-sumber rujukan seperti Riyadhus Shalihin, Sirah Ibnu Hisyam, Fiqh Sirah M. Ghazali, Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqh Sirah Munir Muhammad Ghadban, Manhaj Haraki Lis Sirah An-Nabawiyah.            Berikutnya aspek ruhiyah dapat disentuh dengan daurah-daurah ruhiyah, daurah “upgrading”, tahsin dan tahfizh, mutaba’ah tilawah, membaca Ma’tsurat, shaum sunnah, ifthar shaim, bergaul, ziarah ke orang-orang shaleh, membaca kitab Targhib wa Tarhib.            Sebagai pelengkap agar peserta halaqah juga memiliki skill atau ketrampilan, faktor fanniyah pun perlu diasah dengan mengadakan kursus dan pelatihan masak memasak, jahit menjahit, kewiraniagaan, mengemudi motor atau mobil dan jurnalistik.            Bila baramij halaqah tersebut direncanakan dan dilakksanakan secara baik, cermat dan konsisten agar ahdaf halaqah terealisir. 

Karakteristik Halaqah Pada Segmen-segmen Tertentu            Secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara halaqah yang satu dengan yang lain walaupun peserta-pesertanya terdiri dari segmen masyarakat yang berbeda misalnya segmen akhwat dan mahasiswa.            Sebenarnya juga tidak ada keharusan bahwa halaqah harus homogen atau terdiri dari peserta-peserta halaqah yang sejenis atau seprofesi, namun memang lebih mudah buat seorang murabbi untuk mengarahkan bila dalam satu kelompok halaqah tidak terdapat kesenjangan intelektualitas, pemikiran atau perbedaan latar belakang yang mecolok.            Oleh karena itu kita mengenal adanya halaqah buruh, pelajar, mahasiswa atau akhwat dan halaqah akhwat masih bisa dirinci halaqah akhwat yang mahasiswi, buruh atau pelajar. Sesuai dengan perbedaan taraf inetelektualitas, kedewasaan dan latar belakang memang ada perbedaan spesifik di antara jenis-jenis halaqah tersebut. 

Halaqah Pelajar            Dalam hadits disebutkan tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di mana tidak ada naungan selain naungan Allah, di antaranya adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah dan pemuda yang lekat hatinya dengan masjid. Pelajar sebagai awal dari rentang usia seorang pemuda atau lazim pula disebut ABG (Anak Baru Gede) berada di masa-masa transisi/pubertas. Masa-masa ini sulit karena kematangan biologis, seksual pada diri mereka tidak dibarengi kematangan ruhani dan fikriyah (intelektualitas) sehingga dampak berupa kenakalan remaja, tawuran, keterjeratan/keterperangkapan pada narkoba dan pergaulan bebas semakin marak.            Seyogyanyalah sejak usia SLTP dan SMU, mereka mulai dilirik dan dibidik sebagai sasaran da’wah dengan tetap memperhatikan kekhasan dunia mereka sebagai ABG sehingga acara seperti wisata ruhani, olah raga dan kesenian dapat digunakan sebagai daya tarik sebuah halaqah pelajar. 

Halaqah Mahasiswa            Mahasiswa dikenal sejak dulu sebagai agen perubahan. Kekhasannya sebagai segelintir elit pemuda yang terdidik, dinamis dan peka serta memiliki nurani yang tajam membuat ia menjadi sasaran utama da’wah.            Umar ibnul Khathab r.a pernah berkata: “Kalau ingin menggenggam dunia, genggamlah para pemudanya”. Dan memang sejarah mencatat setiap terjadi perubahan besar di masyarakat, hampir bisa dipastikan mahasiswalah ujung tombaknya.            Karena itulah pembinaan halaqah mahasiswa harus memperhatikan kekhasan mahasiswa berupa aspek intelektualitas dan dinamikanya yang tinggi. Kegiatan penugasan untuk menjadi peserta atau panitia seminar, diskusi panel, pentas seni di kampus sendiri atau di kampus-kampus lain sebagai studi banding adalah sarana yang baik untuk mengasah kemampuan ilmiah, da’wah dan bekerja dalam sebuah team work.            Selain mereka disupport untuk aktif melakukan da’wah ammah di lingkungan kampus, mereka pun hendaknya secara berkala di up grade melalui daurah-daurah tarqiyah (up grading). Dengan kata lain mereka tetap menjadi sasaran da’wah khosshoh yang utama agar mereka senantiasa mendapatkan back up/daya dukung ruhiyah yang memadai.            Halaqah Buruh/Pekerja            Buruh yang kini lebih dan ingin dikenal sebagai kelompok pekerja tak pelak lagi merupakan salah satu komponen masyarakat yang penting karena merekalah yang turut menggerakkan roda-roda ekonomi dan industri.             Merekapun rentan terhadap hasutan dan penguasaan kaum sosialis atau marxis yang juga berkepentingan mendekati, menggarap dan membina para pekerja ini yang mereka anggap dan sebut sebagai kaum proletar.           
Para pekerja ini umumnya memang memiliki taraf intelentualitas yang terbatas karena umumnya lulusan SD, SLTP atau maksimum SMU, namun tak berarti mereka sulit disentuh dan dibina. Asal kita bisa mengarahkan dengan pas, faham jadual kerja mereka yang acapkali berganti-ganti shift, mereka bisa menjadi kader da’wah yang handal dan motor penggerak paling tidak di kalangan pekerja pula.
            Bahkan Majalah Ummi dulu sempat mencatat sekitar tahun 1993 – 1996 ketika membuka dompet Bosnia bagi pembaca yang ingin membantu saudara-saudaranya di
Bosnia, bahwa banyak sekali pekerja-pekerja wanita dari beberapa pabrik tertentu yang rutin menyalurkan infaq mereka.
 

Halaqah Akhwat            Seyogyanyalah seorang murabbi bagi halaqah ini adalah juga akhwat, karena hanya wanitalah yang mengetahui secara lebih mendalam kekhasan-kekhasan kejiwaan seorang wanita. Kecuali dalam keadaan terpaksa misalnya ketiadaan akhwat yang mampu.            Walaupun tidak ada perbedaan tugas, kewajiban dan hak-hak selaku hamba Allah, wanita tetap memiliki hak dan kewajiban yang spesifik sebagai seorang anak wanita, istri dan ibu. Sehingga selain diajarkan hal-hal yang pokok seperti aqidah, ibadah dan syari’ah, akhlaq dan jihad, kepada halaqah akhwat ini juga harus diberikan materi-materi yang dapat mengasah kewanitaannya seperti daurul mar’ah (peranan wanita), tarbiyatul aulad (pendidikan anak), Fiqh Nisa’ (fiqh wanita) seperti thaharah (bersuci), haid dsb dan Tarajimun Nisa’ (biografi wanita-wanita teladan dalam sejarah Islam).            Bahkan perlu ditambah pula pekan-pekan khusus seperti pekan terakhir di setiap bulan berupa pembekalan fanniyah yang berkaitan dengan ke”rabbatul bait”an (kerumahtanggaan) seperti kursus memasak, menjahit, menata rumah, merangkai bunga dan juga ketrampilan lain seperti memotong rambut dan mengemudi. Dalam hal evaluasi tarbiyah juga perlu diperhatikan pula tingkat kepekaan, kedewasaan  kewanitaan dan tingkat kecondongan mereka pada fitrah kewanitaan mereka di samping kekuatan iman dan kontinuitas ibadah serta keutamaan akhlaq.            Proses pembinaan akhwat perlu memperhatikan peluang berupa athifiyah (kelembutan) dan kepekaan wanita dalam bersegera menyambut kebaikan namun ancaman berupa ketidakstabilan emosi dan friksi-friksi dengan murabiyyah atau dengan sesama peserta halaqah perlu diwaspadai dan disiasati.            Kendala-kendala seperti cobaan keterlambatan mendapat jodoh atau bila sudah berumah tangga kekurangcakapan menata beban-beban baru seperti tugas-tugas kerumahtanggaan dan anak dapat mengendurkan semangat dan menurunkan aktivitas serta produktivitas akhwat.            Seyogyanyalah halaqah akhwat perlu ditata, direncanakan dan ditangani secara lebih matang dan serius oleh tenaga-tenaga pembina yang handal.Waallohu A’lamu bisshawab.

Add comment November 19, 2006 mentoringisc

SISTEM KADERISASI

Setelah mendapat materi ini diharapkan peserta mampu ;

  1. Memahami sistem kaderisasi dalam manhaj  1421 H
  2. Memahami arah kaderisasi
  3. Memahami tujuan kaderisasi
  4. Memahami marhalah amal dalam kaderisasi

 

I.     PENDAHULUANIslam sebagai Din merupakan sistem atau manhaj yang sempurna dari Allah  sebagai sandaran atau pedoman hidup bagi manusia.“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui ( QS Al-Jaatsiyah  l8)”.Sistem ini integral dan komprehensif, karena diambil dari Kitabullah, Sunnah Rasul,Siroh Nabi, Siroh Sahabat dan ijma Ulama. Sistem Ilahi ini mampu memecahkan seluruh persoalan hidup manusia dengan komprehensivitasnya sehingga tidak lagi membutuhkan  sistem yang lain. Yang ingin dicapai dari sistem ini adalah perubahan yang terdapat pada setiap orang, dari kondisi buruk kepada yang baik atau kepada yang lebih baik, dari kufur kepada iman, dari ma’shiyat kepada taat, dari kesesatan menuju hidayah, dari batil menuju benar dan dari sistem manusia kepada sistem Ilahi disetiap kesempatan. Proses penyiapan manusia menuju kebaikan ini disebut dengan tarbiyah Islamiyah. 

II.    TUJUAN TARBIYAH ISLAMIYAHTujuan Tarbiyah Islamiyah  adalah menciptakan kondisi yang kondusif  bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan ridla dan pahala Allah SWT.Tujuan ini  mencakup :1.       Ibadah” Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah  kepadaKu”  ( Adz-Dzariyat : 56)Ibadah menuntut  terwujudnya banyak unsur dari seorang muslim, antara lain : unsur iman, unsur Islam, unsur Ihsan, unsur keadilan, unsur amar ma,ruf nahi  munkar, dan unsur jihad di jalan Allah  untuk menjadikan kalimah allah  sebagai kalimah yang tertinggi, sebagaimana tuntutan akan terwujudnya berbagai unsur itu dalam bentuk kata-kata dan tindakan sekaligus.2.       Tegaknya Khilafah Allah di muka bumi.”Sesungguhnya Aku jadikan manusia sebagai khalifah di bumi” (Al-Baqarah 30).Pengangkatan manusia sebagai khalifah menuntut aktivitas pemakmuran bumi dan  pemanfaatan  segala sesuatu yang Allah berikan untuk umat manusia3.   Ukhuwah  (Al-Hujurat :13)Setelah beriman kepada Allah swt dan masuk agamaNya secara berbondong-bondong,tidaklah patut bagi manusia kecuali saling berkasih sayang, saling menolong, dan saling menasehati dalam kesabaran, kemudian mempererat hubungan itu  agar makin sempurna.4.   Kepemimpinan Dunia.Allah berfirman : ”Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa ” (An-Nur : 55)  Artinya, bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah para tokoh penguasa bumi, karena agama mereka adalah agama kemenangan dan kekuasaan, maka harus ada upaya meraihnya dengan program tarbiyah Islamiyah bagi semua orang.5.        Menghukum Dengan Syariat. Allah berfirman :”Hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh allah kepadamu . (Al-Maidah :49)Inilah tujuan inti dari tujuan tarbiyah Islamiyah. Tercapainya keempat tujuan sebelumnya akan  menghantarkan kepada tegaknya syariat Islam. 

III.    TUJUAN TARBIYAH IKHWANIYAH

Tarbiyah ikhwaniyah memiliki  dua tujuan besar :1.       Tujuan permanen, yakni penerapan dari tujuan-tujuan tarbiyah islamiyah.Tujuan permanen itu antara lain :a.        Memberdayakan orang, untuk dapat mengabdi  kepada sesembahan yang hak,yaitu Allah swt.Semua itu dilakukan dengan: ü      menajamkan unsur keimanan dalam diri manusia sebagai hamba Allah dengan persepsi yang benar.ü      Menghidupkan unsur Islam diri manusia.Semua itu dilakukan dengan pemahaman yang benar tentang syahadat dan pengamalan kandungannya.ü      Penerapan unsur ihsan dalam ibadah dan tradisi.ü      Menegaskan dan membiasakan keadilan serta membantu orang untuk menegakkannya.ü      Penanganan amar ma’ruf nahi munkar dan membantu orang lain melakukannya.ü      Penanganan operasional jihad di jalan Allah agar kalimah Allah menjadi kalimat yang tertinggi.b.       Menjalankan kewajiban khilafah di muka bumi, memakmurkannya dan membantu orang lain untuk memahamai tujuan ini.Hal ini meliputi :3.       Keyakinan  bahwa bumi dan segala isinya telah Allah ciptakan untuk manusia,untuk dimanfaatkan dan usaha memakmurkan bumi adalah kewajiban syariat.4.       Meraih segala yang meningkatkan potensi keilmuan dan keahlian yang dapat menjadikan manusia mampu memakmurkan bumi.5.       Menegaskan keyakinan bahwa penguasaan kita dengan khilafah atas bumi untuk tujuan kemanfaatan dunia dan akhirat. (An-nur :55)c.        Menunaikan kewajiban ta’aruf antar  kaum muslimin di suatu negeri dan di berbagai tanah air Islam.d.       Bekerja untuk meraih kekuasaan di bumi dan menjadikan syariat Allah sebagai dasar pijakannya 

2.       Tujuan konstekstual, yakni pengamatan terhadap arus berbagai nilai yang mewarnai masyarakat dan bagaimana mencari perangkat yang dapat digunakan untuk menghadapinya dalam perspektif syariat Islam. Tujuan Kontekstual atau tujuan antara, intinya adalah bagaimana upaya menghadapi perubahan arus nilai secara ilmiah dan tepat berlandaskan ajaran islam, sekaligus bagaimana merumuskan  cara-cara terbaik untuk itu. Perubahan adalah sunnatullah dan bagaimana manusia berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, juga bagaimana kehidupan di sekitarnya berubah seiring dengan perubahan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum , kecuali jika manusia itu sendiri berusaha mengubahnya (Ar-Ra’d :1). Allah akan mengubah apa yang ada pada diri mereka  sesuai dengan niat, ucapan, dan perilaku mereka.Beberapa perubahan arus nilai itu antara lain :1.       Arus pemikiran dan peradaban.2.       Arus sistem nilai sosial dan politik.3.       Arus politik dan ekonomi.4.       Sarana-sarana kehidupan dan pola-polanya.5.       Arus cara pandang terhadap alam, kehidupan, dan benda hidup.Untuk mencapai kedua tujuan itu diperlukan tahapan-tahapan amal yang komprehensiv dan saling berkesinambungan antara satu tahapan ke tahapan berikutnya. Marhalah (tahapan) amal itu antara lain :

  1. Pembentukan pribadi. Terbentuknya sosok muslim dalam pemikiran, keyakinan,akhlak,dan emosinya.
  2. Pembentukan keluarga . Terbentuknya rumah tangga muslim dalam pemikiran, keyakinan, akhlak, dan emosinya.
  3. Pembentukan masyarakat muslim dalam keseluruhan aspek di atas.
  4. Memperbaiki negri muslim . Lahirnya pemerintah islam  yang menggiring masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam.   
  5. Memerdekakan negri muslim. Terbebasnya negri-negri muslim dan kemudian bergabung bersama ikhwan.
  6. Mengembalikan khilafah islam.
  7. Menjadi guru peradaban ummat manusia. Terwujudnya penyebaran dakwah ke seluruh dunia, menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, menggaungkannya ke seluruh  penjuru bumi, dan menjatuhkan semua penguasa otoriter sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah.

 

IV.   CIRI KHAS MANHAJ TARBIYAHManhaj tarbiyah ikhwaniyah telah mengalami  perkembangan. Dalam sepuluh tahun terakhir manhaj yang digunakan sebagai bahan rujukan  secara nasional  adalah  manhaj tahun l994 dan manhaj tahun l998. Ciri khas manhaj l994 menekankan pada referensi  yang harus dikaji dalam proses tarbiyah, sedangkan substansi materi diambil dari maraji’ yang direkomendasikan. Ciri khas manhaj l998 menekankan sasaran dan tujuan tarbiyah yang lebih rinci dalam pengukurannya. Bahan acuan manhaj tarbiyah masih bervariasi dalam pengambilan sumber rujukan manhajnya. Dimana untuk  marhalah Dewasa mengacu pada manhaj tahun l994 dan untuk marhalah sebelumnya belum mengacu secara sempurna  pada manhaj terakhir. Untuk itu diperlukan manhaj berskala nasional yang  dapat menjawab tantangan waqi’iah, bersifat kontekstual dan memenuhi standar manhaj alami. Manhaj ini disebut manhaj l421 H/2000M. Manhaj  ini merupakan revisi untuk manhaj  Pemula dan takwiniyah  yang selama ini ada. Manhaj ini  mengacu sepenuhnya pada manhaj l998 dan diupayakan sedemikian rupa tetap mempertahankan  beberapa muatan manhaj l994 yang dirasakan masih relevan untuk diteruskan. Ciri khas manhaj l421 H adalah mentarbiyah seseorang dengan mengacu  pada tujuan  akhir tarbiyah, ( apa yang diharapkan dari peserta tarbiyah pada setiap marhalah tarbiyah ).Yang perlu diingat ,ciri khas metode ini adalah peranan pelaksana tarbiyah yang harus memahami manhaj dengan sempurna, sehingga jumlah materi, jenis materi, dan masa tarbiyah sangat bervariasi namun semuanya tetap mengacu pada hasil akhir  proses tarbiyah.Yang menjadi landasan lahirnya manhaj tarbiyah adalah delapan fikroh ikhwan. Ini dikarenakan pemahaman yang komprehensiv dan utuh tentang Islam dalam diri ikhwan ini menghasilkan keuniversalan fikrohnya yang menyentuh semua aspek reformasi umat dan tercermin pula di dalamnya  semua ide perbaikan. Kedelapan fikroh ikhwan itu adalah :

  1. Dakwah salafiyah, karena mereka menyeru untuk mengembalikan Islam kepada sumbernya yang jernih, yakni Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.
  2. Thariqoh sunniyah, karena segenap kemampuannya mereka membawa dirinya untuk beramal dengan landasan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah.
  3. Haqiqah shufiyah, karena mereka memahami bahwa asas kebaikan adalah kescuian jiwa, kejernihan hati, kontinyuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, kecintaan karena allah, dan komitemen dengan kebajikan.
  4. Hai’ah siyasiyah, karena mereka menuntut perbaikan hukum dari dalam,, meluruskan persepsi seputar hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa lain di luar negeri, serta mendidik masyarakat untuk memiliki kehormatan, harga diri, dan kemauan yang kuat untuk mempertahankan jatidirinya, sampai batas maksimal.
  5. Jama’ah riyadliyah, karena mereka sangat memperhatikan fisiknya dan menyadari bahwa mukmin yang kuat lebih baik dari pada muknin yang lemah.
  6. Rabithah ilmiyah tsaqofiyah, karena Islam menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Begitu juga karena forum-forum ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah taklim dan peningkatan wawasan serta lembaga-lembaga untuk mentarbiyah fisik,akal, dan ruhani.
  7. Syirkah iqtishodiyah, karena Islam sangat memperhatikan pendistribusian hareta dan perolehannya.
  8. Fikroh ijtimaiyah, karena mereka sangat memperhatikan penyakit-penyakit yang melanda masyarakat Islam dan berusaha memberikan terapi solusinya.

Fikroh ikhwan ini kemudian mendasari l0 arkanul bai’ah yang menjadi landasan operasional  tarbiyah. Kesepuluh arkanul bai’ah itu adalah :

  1. Paham, adalah yakin bahwa fikrah (pandangan ) kita adalah fikrah Islami dan sahih.Anda harus memahami Islam sebagaimana diuraikan dalam ushul  ‘isyrin ( 20 prinsip ikhwan ).
  2. Ikhlash, setiap al akh muslim, harus mengharapkan keridhaan Allah dan pahala dari semua ucapan, amal, dan jihad yang dilakukannya tanpa didorong oleh kepentingan pribadi, penampilan, kemewahan, pangkat, gelar, kedudukan dan yang lainnya.
  3. Amal, adalah  buah dari ilmu dan ikhlas. ( At-taubah 105 )
  4. Jihad, adalah kewajiban yang harus dilakukan terus menerus dan  berkesinambungan sampai hari kiamat, seperti yang telah dinyatakan dalam hadist Rasulullah Saw: “ Barangsiapa yang mati (sedang) ia tidak pernah berperang dijalan Allah dan tidak pernah berniat untuk berperang (di jalan Allah), ia mati dalam keadaan jahiliah.”
  5. Tadhhiah, adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan semua potensi untuk mencapai tujuan. Di dunia ini tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Setiap pengorbanan  dalam memperjuangkan fikrah  kita tidak akan sia-sia, bahkan mendapat pahala yang besar dan baik di sisi Allah SWT. Barang siapa yang tidak mau berkorban bersama-sama kaum muslimin dalam melaksanakan jihad fi sabilillah akan berdosa dan akan menanggung segala akibatnya.
  6. Taat, adalah menerima perintah dan melaksanakannya dengan cepat, baik di waktu senang atau sulit, terhadap hal-hal yang disukai atau dibenci.
  7. Tsabat , al akh senantiasa bekerja dan berjihad untuk mencapai tujuan, meskipun tujuan tersebut masih jauh bahkan memakan waktu bertahun-tahun  sampai ia bertemu Allah Swt dan benar-benar berhasil memperoleh salah satu dari dua kebaikan : tercapainya tujuan atau mati syahid.
  8. Tajarrud,  adalah membersihkan fikrah dari segala pengaruh ajaran dan tokoh lain.
  9. Ukhuwwah, Adalah mengikat hati dan ruh dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mulia. Ukhuwah adalah saudara iman, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan utama adalah kesatupaduan dan kesatupaduan tanpa adanya cinta. Derajat cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari segala buruk sangka kepada saudara muslim lainnya. Derajat cinta yang paling tinggi adalah itsar.
  10. Tsiqah, adalah tentramnya jundi  (prajurit) kepada mas-ulnya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya.

 

Setelah memahami 10 arkanul bai’ah dan 8 fikrah ikhwan , maka ditetapkan tujuan tarbiyah yang bermuatan  atau disesuaikan dengan kebutuhan nasional keIndonesiaan. Pada tahap ini telah dibuat 69 tujuan umum manhaj tarbiyah  atau kompetensi yang harus dicapai dalam tarbiyah  (disebut dengan kompetensi kritis). Dua buah tujuan merupakan tambahan yang bersifat lokal. Tujuan umum atau kompetensi kritis tersebut kemudian dirinci menjadi tujuan khusus manhaj untuk setiap marhalah tarbiyah mulai Pemula, Muda, Madya, Dewasa dan Ahli. Dari tujuan pembelajaran ini dibuat  pemetaan antara tujuan umum manhaj dengan bidang studi yang direkomendasikan. Adapun bidang studi  yang direkomendasikan  tercakup dalam 24 bidang studi  dan disebar ke dalam 4 kelompok kajian, yaitu :

  1.  
    1. Dasar-dasar keislaman, mencakup :

(1). Al-Qur’an dan ‘Ulumul Qur’ an,  (2). Hadist dan ‘Ulumul hadist, (3).Aqidah.(4). Fiqh     (5 ) . akhlak dan kepribadian muslim.

  1.  
    1. Pengembangan diri dan ketrampilan dasar.

(6). Metodologi berfikir dan riset,  (7) Belajar mandiri, (8). Rumah tangga muslim.(9). Manajemen dan organisasi, (10). Bahasa arab, (11). Kesehatan dan kekuatan fisik, (12). Kependidikan dan keguruan.

  1.  
    1. Da’wah dan Pemikiran islam:

(13). Fiqh da’wah , (14). Sejarah dan peradaban ummat, (15).Dunia Islam kontemporer, (16). Pemikiran, gerakan dan organisasi pembaharuan, (17). Islam dan kekuatan-kekuatan lawan.

  1.  
    1. Sosial Kemasyarakatan :

(18). Tata sosial kemasyarakatan , (19). Perundang-undangan, (20). Sistem politik dan hubungan internasional  (21).Ekonomi , (22).  Seni dan budaya, (23). Iptek dan lingkungan, (24 ).Politik kontemporer. 

V.    TAHAPAN-TAHAPAN TARBIYAH 

Untuk selanjutnya  seluruh bidang  studi ini disebar  ke dalam proses tarbiyah. Menurut  Imam  Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim bahwa tarbiyah harus melalui 3 fase : 

1.       Ta’rif. Dalam tahapan ini, da’wah dilakukan dengan menyebarkan fikrah prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai serta ajaran-ajaran pokok Islam ditengah masyarakat melalui da’wah fardiah (dengan menjalankan hubungan dengan orang-orang yang berpotensi berubah) atau dengan halaqoh  dan melakukan perubahan secara Islam. 

2.       TakwinDalam tahapan ini da’wah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban dan mengembangkan seluruh potensi yang ada. Da’wah pada tahapan ini bersifat khusus, tidak dapat diikuti oleh seseorang kecuali yang memiliki persiapan secara benar untuk memikul beban  jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. Sistem tarbiyah pada tahapan ini bersifat tasawuf murni dalam tatanan ruhani dan bersifat militer dalam tataran operasional. 

3.       TanfidzDa’wah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plinplan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, kesiapan menanggung cobaan  dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus dan memiliki  ketaatan total. 

 

VI.    MUWASHOFATSebagaimana telah disebutkan, bahwa ciri khas manhaj l421 H adalah mentarbiyah seseorang dengan mengacu kepada tujuan  akhir tarbiyah seseorang (goal based learning), atau apa yang diharapkan dari peserta tarbiyah pada setiap marhalah. Untuk itu perlu  diketahui  karakteristik peserta tarbiyah yang mencakup aspek sikap (afektif ), pengetahuan ( cognitif), dan perilaku (psikomotorik) .Karakteristik yang harus dimiliki setiap individu  itu  mencakup 10 point :

  1. Salimul aqidah, setiap individu  dituntut untuk memiliki kelurusan aqidah yang hanya dapat mereka peroleh melalui pemahaman terhadap Qur’an dan Sunnah.
  2. Shahihul ibadah, setiap individu dituntut  untuk beribadah sesuai dengan petunjuk yang disyariatkan kepada Rasulullah SAW.
  3. Matinul khuluq, setiap individu dituntut untuk memiliki ketangguhan akhlak sehingga mampu mengalahkan hawa nafsu dan syahwat.
  4. Qadirun ‘alal Kasbi, setiap individu dituntut  untuk mampu menunjukkan  potensi dan kreativitasnya dalam dunia kerja.
  5. Mutsaqqaful fikri, setiap individu dituntut  untuk memiliki keluasan wawasan.
  6. Qawiyyul jism, setiap individu dituntut untuk  memiliki kekuatan fisik melalui sarana-sarana yang dipersiapkan Islam.
  7. Mujahid lin nafsi , setiap individu dituntut untuk memerangi hawa nafsunya dan senantiasa mengokohkan diri di atas hukum-hukum Allah melalui ibadah dan amal shaleh.
  8. Munadzam fi syu’unihi, setiap individu dituntut untuk  mampu mengatur segala urusannya sesuai dengan keteraturan Islam.
  9. Haristun ‘ala waqtihi, setiap individu dituntut untuk memelihara waktunya sehingga ia terhindar dari kelalaian dan  kehilafan  perbuatan manusia.
  10. Nafi’un li ghoirihi, setiap individu harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain.

 

VII.    PROSES TARBIYAHUntuk mencapai muwashofat proses tarbiyah memerlukan komponen-komponennya. Baik internal ataupun eksternal. Komponen ini saling berhubungan dan berpengaruh  antara satu dengan yang lainnya. Adapun komponen internalnya yang mempengaruhi proses tarbiyah adalah :

  1. Peserta adalah seseorang yang direkrut untuk mengikuti proses tarbiyah sesuai dengan marhalahnya
  2. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan bidang studi serta cara yang digunakan  sebagai pedoman penyelenggaraan tarbiyah yang berkaitan dengan waktu dan tingkatan tarbiyah. Kurikulum merupakan sesuatu yang harus dikuasai dengan baik oleh pelaksana program tarbiyah. Pada akhir program tarbiyah, kurikulum digunakan sebagai alat untuk melihat tingkat keberhasilan proses tarbiyah.
  3. Pelaksana adalah seseorang yang bertugas melaksanakan berbagai sarana tarbiyah untuk setiap peserta tarbiyah sesuai dengan jenjang  tarbiyah.
  4. Pengelola adalah institusi yang berwenang dalam perencanaan,pengorganisasian, dan mutaba’ah penyelenggaraan tarbiyah sesuai dengan ruang lingkup yang menjadi tanggung jawabnya.
  5. Metode adalah cara untuk menyampaikan materi kepada peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
  6. Media adalah alat bantu atau alat peraga yang digunakan dalam proses tarbiyah untuk memudahkan pencapaian tujuan pemberian materi.
  7. Administrasi meliputi tulis-menulis dalam rangka fungsi manajemen pada seluruh komponen tarbiyah.
  8. Taqwim adalah sebuah proses dan mekanisme evaluasi  pencapaian muwashafat dan seleksi kenaikan jenjang peserta tarbiyah.
  9. Prasarana adalah segala sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar,akan tetapi dapat mempengaruhi hasil belajar. Prasarana ada yang bersifat materi dan non materi.
  10. Lingkungan adalah kondisi yang mempengaruhi proses tarbiyah, positif atau negatif, dalam skala keluarga, masyarakat, negara, dan internasional.

 

VIII.   SARANA TARBIYAHSarana adalah  program atau bentuk acara  yang dijadikan  sebagai alat untuk merealisasikan kurikulum tarbiyah. Sarama tarbiyah itu antara lain :1.       Halaqah, adalah proses kegiatan tarbiyah dalam dinamika kelompok. Jumlah normal satu halaqah maksimal 12 orang. Murabbi diperkenankan mentarbiyah paling banyak 3 kelompok.2.       Tatsqif,adalah salah satu sarana sebagai proses pembentukan syakhsiyah dai’yah mutakamilah yang bersifat ilzami melalui pembekalan  ‘ulum islamiyah kepada  peserta tarbiyah.3.       Daurah dan kursus, adalah forum intensif untuk mendalami suatu tema atau ketrampilan/keahlian tertentut. Diikuti oleh peserta dengan persyaratan tertentut dan dilaksanakan dalam waktu relatif lebih lama.4.       Ta’lim, adalah bentuk penyampaian mawad tarbiyah tsaqafiah sekaligus tarbiyah jamahiriyah yang diselenggarakan melalui sarana-sarana umum seperti masjid atau majelis ta’lim dengan penamaan ta’lim fil masajid.5.       Mabit, adalah  salah satu sarana tarbiyah ruhiyah dalam bentuk menginap bersama dengan menghidupkan malam untuk meningkatkan hubungan dengan Allah SWT serta kecintaan kepada Rasulullah SAW.6.       Rihlah, adalah suatu perjalanan rekreasi yang bersifat tarbawi, manhaji, dan tandzimi dengan kegiatan yang disiapkan untuk mencapai sasaran pemulihan dan penyegaran potensi ruhi, fikri, dan jasadi serta penguatan hubungan kemasyarakatan dan kekeluargaan.7.       Mukhayam, adalah sarana penghimpunan , pelatihan dan pengarahan dalam rangka menerapkan nilai Islam pada aktifitas kehidupannya. 

IX.    PENUTUPManhaj tarbiyah /sistem kaderisasi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan saling berkesinambungan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Tujuan tarbiyah akan tercapai, Insya Allah jika setiap tahapan-tahapan tarbiyah dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh, manhaji , dan menyerahkan seluruh amal  serta urusan akhir kepada Allah SWT.  Waallohu A’lamu bisshawab.

1 comment November 17, 2006 mentoringisc

“HATMIYYAH AT-TARBIYYAH”

Adalah Abdulloh bin Rowahah RA, seorang sahabat yang ketika diangkat oleh Rosululloh SAW menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang Mu’tah, Ia menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata. Lalu para sahabat lainnya bertanya : “Maa yubkika ya… Abdalloh…” (Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Abdulloh…), Iapun menjawab : “Wa maa bia hubbuddunya walaa shabaabatan bikum walaakin tadzakkartu hina dzakaranii Rosulullohu biqoulihi ta’ala : Wa in minkum illaa waariduhaa kaana alaa Rabbika Hatman Maqdhiyya” (Tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu-elukan oleh kalian, akan tetapi aku hanya teringat ketika Rosululloh mengingatkanku dengan firman Alloh SWT : “Dan tidaklah dari kalain melainkan akan mendatanginya (neraka jahannam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (ya! Muhammad) merupakan ketentuan yang telah ditetapkan”. (QS. Maryam : 71). 

Dari ungkapan Abdulloh bin Rowahah tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa beliau mentadabburkan ayat al-qur’an begitu dalam, sehingga beliau mengaitkan erat ayat tersebut dengan amanah jabatan yang baru saja dipangkuanya, apakah jabatannya kelak dapat menyelamatkannya ketika masing-masing orang mau tidak mau harus melewati “Shirothol Mustaqim”, karena menghadapi neraka Jahannam dengan melewatinya adalah “Hatman Maqdhiyya”, ketentuan yang telah ditetapkan, tidak ada jalan alternatif lain dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. 

“Hatman Maqdhiyya” juga berlaku dalam kaidah Tarbiah sebagai sebuah proses dalam proyek kebangkiatan umat dan pembangunan peradaban, oleh karenanya Tarbiyah memiliki sifat “Hatmiyyah”, sifat keniscayaan, dengan kata lain bahwa Tarbiyah suatu keniscayaan adala sebuah keharusan, atau ketentuan yang harus dipenuhi, konsekwensi yang harus dijalankan, tidak dapat ditawar dan tidak bisa tergantikan dengan apapun. Walhasil untuk dapat istiqomah di jalan da’wah serta mencapai target dan sasarannya, hanya ada satu jalan : Tarbiah!. Karena Tarbiyah adalah jalan yang dikehendaki oleh Alloh SWT untuk diikuti ( QS. 6 : 153 ), dalam rangka melahirkan kader-kader generasi Rabbani (Generasi-generasi yang tertarbiyah) yang senantiasa antusias mengajarkan Al-qur’an dan mempelajarinya ( QS. 3 : 79). 

Tarbiyah suatu keniscayaan dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga buah pendekatan. 

 Pendekatan Idealis

Tarbiyah adalah jalan bagi para Da’i Islam, tidak ada jalan lain, atau dengan kata lain jalan para da’i adalah jalan tarbawi yang memiliki paling sedikit tiga karakter mendasar. 

Pertama : Sulit tapi hasilnya paten ( Sha’bun – Tsabit ) 

Sulitnya sebuah proses biasanya membuahkan hasil yang berkualitas, oleh karena itu proses da’wah yang dilakukan oleh Rosululloh SAW, bukanlah perkara yang mudah, bayangkan, lima tahun pertama dalam da’wahnya di Mekkah baru hanya terkumpul “Arba’una rojulan wa khomsu niswatin” (40 laki-laki dan 5 wanita), akan tetapi ke 45 orang inilah yang kemudian menjadi ujung tombak da’wah, yang tidak hanya “Qaabilun lidda’wah” tetapi juga “Qaabilun litthagyir”, bahkan mereka seluruhnya menjadi “Anashiruttaghyir”, “Agen of change”, agen perubahan sosial dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang islami. 

Berda’wah memang tidak mudah, karena berda’wah melalui proses Tarbiyah ibarat menanam pohon jati, yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara sehingga akarnya tetap kuat menghunjam dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencang, oleh karena itu jalan tarbawi adalah proses menuju pembentukan pribadi yang paten, atau dengan kata lain memiliki “matanah” (imunitas) baik secara “ma’nawiyah” (moral), “fikriyah” (gagasan dan pemikiran) dan “Tandzhimiyah” (struktural). 

Ka’ab bin malik RA. Adalah salah satu contoh dari sebuah kepribadian yang paten, yang dengan kesadaran ma’nawiyah, fikriyah dan tandhimiyahnya, Ia mengakui kelalaiannya tidak turut serta dalam perang Tabuk, dan kemudian iapun dengan ikhlas menerima ‘uqubah  (sanksi) yang telah ditetapkan oleh Rosululloh SAW. Bahkan ketika datang utusan dari kerajaan Ghassan yang secara diam-diam menemuinya untuk menyampaikan sepucuk surat dari raja Ghassan  yang isinya antara lain suaka poltik dan jabatan penting telah tersedia untuknya bila Ia mau eksodus, Ia malah berkata seraya merobek surat tersebut : “Ayyu Mushibatin Hadzihi” (Musibah apa lagi ini..!) 

Itulah sebuah refleksi dari sikap matanah yang hanya bisa dihasilkan melalu proses tarbiyah yang tidak mudah, melalui jalan da’wah yang terkonsep secara paten, Al-Qur’an menyebutnya dengan “Al-Qoulu Al-Tsabit” (QS. 14 : 27  ), yang terumuskan di atas konsep yang baik atau “Kalimat Thayyibah” bukan “kalimat khabitsah” (QS. 14 :  25 – 26 ). 

Kedua : Panjang tetapi terjaga keasliannya (Thawil – Ashil) 

Da’wah adalah perjalanan panjang, perjalanan yang dilalui tidak hanya oleh satu generasi, bahkan untuk dapat mencapai target dan sasaran jangka panjangnya membutuhkan beberapa generasi, Ingatlah ketika Rosululloh SAW mengayunkan palu memecahkan bebatuan parit Khandaq, ada percikan apai keluar dari sela-sela hantaman palu dan batu memercik ke arah timur, lalu beliau mengisyaratkan bahwa umatnya kelak akan dapat menaklukan Romawi (Byzantium). Padahal Romawi baru dapat di Taklukan oleh umat Islam pada masa daulah Utsmaniyah sekian abad sesudahnya, berapa generasi yang telah telampaui dan berapa panjang perjalanan da’wah yang telah dilalui?, akan tetapi ikhwah fillah betapaun telah melewati sekian banyak generasi, “Asholah” tetap terjaga, “Hammasah” tetap terpelihara, Islam yang sampai ke Romawi adalah Islam sebagaimana yang dijalankan oleh generasi pertamanya  yaitu Rosululloh SAW dan Para sahabat Rodhiallohu ‘anhum wa rodhuu’anhu. 

Kepribadian yang asholah adalah kepribadian yang telah teruji dengan panjangngnya mata rantai perjalanan da,wah, keperibadian yang hammasah adalah kepribadian yang tak lekang kerena ‘panas’ dan tak lapuk karena ‘hujan’, sebagai ujian dan cobaan dalam perjalanan da’wah. 

Adalah  Abu Thalhah  RA, salah seoarang sahabat yang Alloh SWT berikan kepadanya umur yang panjang, sehingga beliau masih hidup pada masa kekhalifahan Utsman RA, beliau yang saat itu usianya sudah sepuh, ketika ada seruan jihad maritim, mengarungi lautan menuju perairan Yunani untuk mrnghadapi pasukan Romawi, seruan jihad berkumandang melalui lantunan ayat-ayat Al-Qur’an “Infiruu khifafan wa tsiqoolan” (berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun berat), lalu anak-anaknya berkata kpadanya : “Sudahlah Ayah tak usah ikut berperang, cukuplah kami saja yang masih muda yang mewakili Ayah di medan perang”, dengan kecerdasan menafsirkan ayat tersebut dibarengi dengan pembawaan“Hikmatussuyukh Hammasatussyabab” Abu Ayyub menjawab : “Tidak bisa, ayat tersebut telah mewajibkan kepada seluruh kaum muslimin baik yang tua maupun yang muda, karena ayat tersebut menyebutkan “khifafan” (ringan) berarti ditujukan untuk ka lian yang masih muda dan “tsiqalan” ditujukan untukku yang sudah tua, maka anak-anaknya pun tak dapat membendung tekad sang ayah,  berangkatlah Abu Thalhah RA turut serta dalam peperangan tersebut dan Iapun menemui syahadahnya. 

Adalah saad bin Abi Waqqash RA, yang telah menggoreskan kesaksian perjalan da’wah dengan kepribadian yanga asholah yang tidak berubah karena perubahan situasi dan zaman, dari masa-masa yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan hingga masa-masa yang penuh dengan kemudahan dan kesenangan, mengenang semua itu beliau berkata : “Aku adalah salah satu dari 7 orang sahabat  (dari 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga), dahulu kami bersama Rosullloh SAW dalam sebuah ekspedisi, kami tidak memiliki makanan, sehingga kami makan daun-daunan sampai perih tenggorokan kami, akan tetapi sekarang kami yang tujuh orang ini seluruhnya menjadi gubernur di beberapa daerah, maka kami berlindung kepada Alloh SWT agar tidak menjadi orang yang merasa besar di tengah-tengah manusia tetapi menjadi kecil  di sisi Alloh SWT”. 

Ketiga : Lambat tapi hasilnya terjamin (Bathi’ – Ma’mun) 

Da’wah adalah lari estafet bukan sprint, untuk itu diperlukan kesabaran untuk mencapai target dan sasaran dengan kwalitas  terjamin, lari estafet memang tampak kelihatan lambat , akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif  dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kemenanagn di garis finis. Watak perjalanan da’wah yang lambat harus dilihat dari proses dan tahapannya bukan dari perangai para pelakunya, karena perangai yang lambat dalam berda’wah adalah bentuk kelalaian, yang nasab (afiliasi) nya kepada jama’ah kaliber Internasionalpun tidak akan mempercepat langkah kerja da’wahnya, sebagaiman hadits rosululloh SAW : “Man bathi’a ‘amaluhu lam yusra’ bihi nasabuhu” (Barang siapa yang lamban kerjanya, tidak bisa dipercepat dirinya dengan nasabnya). 

Salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah melahirkan sebuah kepribadian yang integral, tidak mendua dan tidak terbelah, integritas kepribadian seorang muslim yang ditempa di jalan Tarbawi tercermin pada keteguhan akidahnya, keluhuran akhlaknya , kebersuhan hatinya, kebaikan suluknya baik secara ta’abbudi, ijtima’i maupun tandzhimi. 

Keberhasilan sebuah da’wah akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya. Sebagaimana halnya ketika terjadi tragedi “Haditsul Ifki” yang menimpa Aisyah radhiallohu anha, banyak orang yang yang tidak terjamin akhlaknya sehingga turut menyebarluaskan fitnah keji tersebut, bandingkan dengan para sahabiyah yang terjamin kualitas tarbawinya, yang menjaga lisannya, yang lebih senang mengedepankan husnudzhannya kepada ummul Mu’minin aisyah RA, cukuplah isteri Abu Ayyub al-anshari mewakili keluarga para shabiyah yang berhati mulia, bagaiman ia mensikapi kasus tersebut dengan penuh rasa ukhuwwah dan mencintai saudaranya karena Alloh SWT. 

Berkenaan dengan gunjingan yang menimpa aisyah RA, isteri abu Ayyub al-anshary berkata kepada suaminya : “Ya..Abaa ayyub!,  lau kunta sofwaana hal taf’alu bihurmati rasulillaahi suu’an, wa hua khairun minka, Ya…Abaa ayyub lau kuntu ‘Aisyah maa khuntu Rasulallohi
abadan”
(Wahai abu Ayyub, jika engkau yang menjadi Safwannya apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada isteri Rosululloh SAW, dan Safwan lebih baik dari engkau. Wahai abu Ayyub, kalau aku yang jadi Aisyah, tidak akan pernah akau menghianati Rasululloh SAW, dan Aisyah lebih baik dariku).
 

Dengan kata lain isteri Abu Ayyub Al-Anshari RA mengingatkan suaminya bahwa dirinya yang tidak lebih baik dari Shafwan  RA saja tidak ada pikiran-pikiran buruk teerhadap Aisyah RA sebagaimana yaang digunjingkan oleh banyak orang, apalagi Shafwan RA yang jauh lebih baik dari suaminya , sehingga mustahil dalam pandangan isteri Abu Ayyub RA Shafwan melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduhkan oleh banyak orang. Sebaliknya isteri Abu Ayyub Al-Ansari RA juga berkata kepada dirinya sendiri , bahwa dirinya saja yang tidak merasa lebih baik dari Aisyah RA tidak pernah terlintas untuk tega mengkhianati suami apalagi Aisyah yang dalam pandangannya jelas-jelas jauh lebih baik dari dirinya, sudah barang tentu mustahil terlintas pikiran jelek menghianati suami (berselingkuh) seperti yang digosipkan oleh banyak orang.   

Kata-kata isteri abu Ayyub syarat dengan taushiah agar kita menjaga syahwatul lisan, mendahulukan husnu dzhan dan menonjolkan sikap tawaddhu sebagai bukti terjaminnya hasil da’wah. 

Pendekatan taktis

Setelah ketiga faktor idealis tersebut diatas telah terealisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetakan langkah-langkah taktis, dengan melakukan program peningkatan kualitas dan kuantitas pertumbuhan kader dan menyelenggarakan “Bi’tsatudduat”. Seperti beberapa orang sahabat yang diutus oleh Rosululloh SAW untuk menda’wahkan dan mengajarkan serta melakukan pembinaan kepada   orang-orang yang baru masuk islam, yang telah melampaui wilayah Makkah dan Madinah, seperti Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman dan Khalid bin Walid yang dikirim ke wilayah irak. Hal itu dimaksudkan untuk menyeimbangkan luasnya
medan da’wah dengan jumlah kader dan menyelaraskan dukungan masa dengan potensi (kemampuan) tarbiyah.
 

Pendekatan Strategis

Langkah strategis dalam sebuah perjalanan da’wah yang sangat penting adalah fokus untuk menyusun barisan  kader inti, dimana hal ini tidak boleh terabaikan betapapun gegap gempitanya sambutan masyarakat umum terhadap da’wah ini, oleh karena itu untuk menghindari terjadinya “Lose of generation”, atau generasi kader yang lowong, maka segera mendesak untuk dirumuskan sebuah strategi membina kader baru yang sekarang ini semakin kompetitif dengan gerakan-gerakan da’wah lainnya. Semakin banyak jumlah jumlah kader inti disamping kader baru baik secara kwalitas maupun kwantitas akan banyak membantu da’wah ini dalam menghadapi berbagai permasalahan dan ancaman. 

Pada masa abu bakar RA, terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa, sehingga 2/3 jazirah arab nyaris mengalami kemurtadan, itu artinya hanya 1/3 wilayah yang selamat yang terdiri dari kota Makkah, Madinah dan Thaif, di ketiga kota inilah kader inti da’wah tetap dijaga dan dipelihara, sedangkan kader-kader baru dibina pada masa Khalifah Umar bin Khattab dimana kebanyakan mereka adalah tawanan perang Riddah pada masa Abu Bakar RA. Terbukti kemudian pada perang Qadisiyah, ketika ancaman imperium Persia menghadang, kader-kader baru yang dibina oleh umar bin khaatab selama kurang lebih satu tahun kebanyakan mereka berada dibarisan paling depan dalam jihad fi sabilillah, dan tak jarang diantara mereka kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan. Itulah hasil sebuah produk tarbiyah  (QS, 3 : 146).  

Wallohu ‘alamu bisshowab   

1 comment November 16, 2006 mentoringisc

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

11 comments November 15, 2006 mentoringisc

  • September 2014
    M T W T F S S
    « Nov    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Blog Stats

    • 3,988 hits
  • Recent Comments

    Selina on Hello world!
    Martha on Hello world!
    sohbet on Hello world!
    thai visa run out on Hello world!
    SesliChat on Hello world!
  • Top Posts

  • Meta

  • Archives

  • Categories

  • Pages

  •  
    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.